Beranda Teknologi Setelah Tokopedia, Giliran Data Bukalapak yang Diisukan Bocor

Setelah Tokopedia, Giliran Data Bukalapak yang Diisukan Bocor

8
0
Setelah Tokopedia, Giliran Data Bukalapak yang Diisukan Bocor

Royyan.net – E-commerce di tanah air sedang diisukan oleh kasus kebocoran data yang kemudian diperjualbelikan di darkweb. Usai melanda Tokopedia, kini giliran Bukalapak yang diisukan mengalami kasus serupa.

Isu ini merebak melalui sebuah klaim di forum hacker di internet bernama RaidForums. Di sana, ada seseorang yang mengklaim kalau dirinya memiliki data belasan juga user Bukalapak.

Klaim datang dari seorang pengguna bernama Startexmis. Dia mengklaim memiliki dan siap menjual 13 juta akun pengguna Bukalapak. Total, ada sebanyak 12.957.573 akun yang siap dijual.

Menanggapi hal tersebut, pihak Bukalapak membantah datanya telah bocor. Platform belanja online bikinan anak negeri itu malahan menyebut kalau isu kebocoran data platformnya merupakan isu lama yang terjadi Maret tahun lalu.

“Ancaman peretasan yang dilakukan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab terhadap industri teknologi digital selalu ada. Perlu ditegaskan bahwa saat ini data konsumen aman di Bukalapak,” ujar CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin.

Dia melanjutkan, pada saat ada percobaan peretasan pada tahun 2019, Bukalapak telah menemukan sumbernya dan menguatkan data security-nya, juga terus mengingatkan para pengguna untuk mengambil langkah pengamanan secara berkala termasuk mengganti password, dan menggandakan keamanan di sistem internal.

“Kami selalu mengimplementasi berbagai upaya demi meningkatkan keamanan dan kenyamanan para pengguna Bukalapak serta memastikan data-data pengguna tidak disalahgunakan. Saat ini kami menggunakan sistem perlindungan berlapis saat menerima, menyimpan, dan mengolah seluruh data pengguna,” imbuh Rachmat.

Saat menerima, dijelaskan kalau Bukalapak menggunakan metode https sehingga data yang masuk diklaim tidak mudah diretas. Sementara saat menyimpan, Bukalapak mengaku menerapkan metode perlindungan termutakhir dengan perlindungan berlapis.

“Saat menggunakan dan mengolah, kami memonitor secara ketat, sehingga jejak orang yang mengakses, membaca, mengganti, atau menghapus data terekam secara baik. Untuk data-data yang sensitif seperti KTP, kami simpan di storage khusus dalam periode waktu tertentu yang dapat secara otomatis terhapus untuk melindungi privasi user kami,” tandas Rachmat.

Untuk diketui, kebocoran data pernah menimpa Bukalapak pada Maret 2019 lalu. Saat itu, disebutkan bahwa 13 juta data pengguna Bukalapak dicuri hacker asal Pakistan bernama Gnosticplayers.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini