Beranda Teknologi Mastel Dorong Penerapan 5G untuk Tingkatkan Konektivitas

Mastel Dorong Penerapan 5G untuk Tingkatkan Konektivitas

2
0
Mastel Dorong Penerapan 5G untuk Tingkatkan Konektivitas

Royyan.net – Semenjak pandemi Covid-19 kebutuhan terhadap Internet Of Things (IoT) terus meningkat. Apalagi para pekerja sejak beberapa bulan terakhir harus bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

Di tengah kebutuhan IoT yang meningkat, Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menyoroti ketersediaan jaringan dan kapasitas jaringan di beberapa wilayah yang masih belum mencukupi. Konektivitas jaringan yang tidak merata dan optimal.

Ketua Bidang Industri 4.0 Mastel Teguh Prasetya mengatakan, jangankan untuk daerah, di Jabodetabek saja kelancaran jaringan masih mengalami gangguan. “Ketika WFH kualitas internet di wilayah Jabodetabek mengalami penurunan. Apalagi di daerah luar,” ungkap Teguh Prasetya kepada Royyan.net, Kamis (18/6).

Teguh menuturkan, saat ini operator telekomunikasi memang sudah menggembangkan jaringan telekomunikasi hingga pelosok. Namun kualitas dan coverage masih belum merata. Untuk meningkatkan kualitas jaringan IoT itu, pemerintah perlu segera mengimplementasikan 5G.

Alasannya, kata Teguh, kapasitas dan coverage jaringan telekomunikasi yang dikembangkan oleh operator sudah tak mencukupi lagi untuk kebutuhan masyarakat.

Untuk daerah perkotaan dan industri seperti di Jabodetabek, layanan 4G sudah tidak cukup untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat. Karena teknologi 4G belum bisa menjanjikan koneksi yang banyak dan bandwidth yang besar.

“Saat ini kebutuhan akan 5G sudah mutlak dan mendesak diimplementasikan di Indonesia. Karena teknologi 5G menjanjikan koneksi yang lebih banyak dengan bandwidth yang lebih besar. Tantangannya di 5G juga membutuhkan frekuensi yang besar. Oleh sebab itu, network sharing di teknologi baru mutlak dibutuhkan,” ujar Teguh.

Saat ini potensi yang paling mudah dilakukan pemerintah untuk menerapkan teknologi 5G ada di frekuensi 2600 MHz. Frekuensi tersebut masih dimanfaatkan oleh televisi berbayar hingga 2024.

Seharusnya, kata Teguh, pemerintah bisa segera melakukan pembicaraan dengan penyelenggara TV berbayar yang masih menggenggam frekuensi tersebut agar dapat segera melakukan refarming. Tujuannya, frekuensi 2600 Mhz tersebut dapat dimanfaatkan bagi 5G.

“Utilisasi dan pemanfaatan frekuensi 2600 MHz oleh TV berbayar tersebut sangat rendah. Terlebih lagi PNBP di sektor TV berbayar dibandingkan dengan industri telekomunikasi juga jauh lebih kecil. Sehingga memanfaatkan frekuensi 2600 MHz juga akan membawa dampak positif bagi APBN,” kata Teguh.

Menurut Teguh, untuk menerapkan 5G yang efektif, dibutuhkan regulasi network sharing. Karena untuk mengimplementasikan 5G dibutuhkan lebar pita frekuensi yang besar. Padahal saat ini ketersediaan frekuensi juga menjadi tantangan tersendiri.

“Jika tidak melakukan network sharing maka akan sulit menerapkan 5G yang efisien dan efektif. Penerapan network sharing seharusnya di teknologi baru dan area baru untuk penggembangan jaringan telekomunikasi. Tujuannya, digital economy di Indonesia dapat segera tumbuh dan menarik investasi asing,” terang Teguh.

~

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini